Apa warisan terbesar yang bisa kita tinggalkan untuk generasi setelah kita? Rumah megah? Harta berlimpah? Atau justru sosok manusia yang berjiwa pemimpin, teguh, dan berakhlak mulia yang akan menyalakan cahaya bagi peradaban? Itulah hakikat melahirkan Rijal.
Diriwayatkan dari Zaid bin Aslam, dari ayahnya, bahwa Umar raḍiyallahu‘anhu berkata kepada para sahabat: "Berangan-anganlah kalian." Maka sebagian dari mereka berkata: "Aku berangan-angan seandainya rumah ini penuh dengan emas, lalu aku infakkan di jalan Allah dan aku sedekahkan." Seorang lelaki berkata: "Aku berangan-angan seandainya rumah ini penuh dengan zamrud dan permata, lalu aku infakkan di jalan Allah dan aku sedekahkan." Kemudian Umar berkata: "Berangan-anganlah kalian." Mereka pun berkata: "Kami tidak tahu lagi, wahai Amirul Mukminin." Maka Umar berkata: "Aku berangan-angan seandainya rumah ini penuh dengan para rijal (lelaki-lelaki sejati) seperti Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah, Mu‘adz bin Jabal, Salim maula Abu Hudzaifah, dan Hudzaifah bin al-Yaman."
Dari ucapan ini, jelaslah bahwa investasi terbesar umat bukanlah pada bangunan, harta, atau kemewahan, melainkan pada pembentukan karakter manusia. Al-Qur’an sendiri, ketika menyebut kata Rojul (bentuk tunggal dari Rijal), hampir selalu mengacu pada sosok yang luar biasa, bukan sekadar lelaki biasa.
Lihatlah bagaimana Allah ﷻ mengabadikan kisah seorang laki-laki beriman dari kalangan keluarga Fir‘aun. Saat Fir‘aun berkata:
ذَرُونِىٓ أَقْتُلْ مُوسَىٰ وَلْيَدْعُ رَبَّهُۥ
"Biarkanlah aku membunuh Musa, dan biarlah ia memohon kepada Tuhannya." (QS. Ghafir: 26)
Muncullah seorang Rojul yang beriman, meski berada di lingkaran para pembesar Fir‘aun. Dengan keberanian ia berkata:
أَتَقْتُلُونَ رَجُلًا أَن يَقُولَ رَبِّىَ ٱللَّهُ وَقَدْ جَآءَكُم بِٱلْبَيِّنَٰتِ مِن رَّبِّكُمْ
“Apakah kalian akan membunuh seorang lelaki hanya karena ia berkata: ‘Tuhanku adalah Allah’, padahal ia datang membawa bukti-bukti kebenaran dari Tuhanmu? …” (QS. Ghafir: 28)
Bahkan di kesempatan lain, Allah ﷻ menceritakan sosok laki-laki ini bergegas datang dari ujung kota memberi peringatan kepada Nabi Musa ‘alaihissalam:
يَٰمُوسَىٰٓ إِنَّ ٱلْمَلَأَ يَأْتَمِرُونَ بِكَ لِيَقْتُلُوكَ فَٱخْرُجْ إِنِّى لَكَ مِنَ ٱلنَّٰصِحِينَ
“Hai Musa, sesungguhnya para pembesar negeri sedang berunding untuk membunuhmu. Maka keluarlah, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menasihatimu.” (QS. Al-Qaṣhaṣ: 20)
Dari kisah-kisah itu kita belajar: Rojul sejati tidak diam di hadapan kebatilan. Mereka tampil berani, meski berada di tengah lingkungan yang menentang iman. Mereka adalah orang-orang pilihan Allah, yang ditempa oleh ujian dan dimantapkan oleh keimanan.
Lalu muncul pertanyaan: bagaimana menghadirkan sosok Rijal dalam keluarga kita? Tentu bukan perkara mudah. Ia membutuhkan perjuangan panjang, kesungguhan yang mendalam, dan kesabaran yang tak pernah putus. Jalan itu hanya bisa ditempuh dengan pendidikan yang berpijak pada panduan Allah, bukan sekadar mengikuti arus zaman. Kita perlu belajar dari jejak Rasulullah ﷺ, para sahabat, dan generasi salafusshalih yang berhasil menumbuhkan pribadi-pribadi tangguh, berakhlak, dan cinta pada kebenaran.
Salah satu teladan datang dari Shafiyyah binti ‘Abdul Muṭṭalib, bibi Rasulullah ﷺ. Ia mendidik Zubair bin ‘Awwam seorang diri setelah suaminya wafat. Shafiyyah membiasakannya hidup sederhana, melatihnya menanggung kesulitan, dan membekalinya dengan keberanian serta keterampilan berperang.
Kadang ia bersikap keras, bahkan memukul Zubair dengan tegas. Hingga ada yang menegurnya bahwa pukulannya tampak seperti kebencian seorang perempuan, bukan kasih sayang seorang ibu. Namun Shafiyyah menjawab dengan mantap:
“Siapa yang berkata aku membencinya, sungguh ia berdusta. Aku memukulnya agar ia tumbuh menjadi lelaki tangguh, mampu mengalahkan pasukan musuh, dan membawa pulang kemenangan.”
Dan benar, Zubair tumbuh menjadi salah satu ksatria besar Islam, seorang Rojul sejati, dan pahlawan yang namanya tercatat dalam sejarah peradaban. Sampai-sampai Rasulullah ﷺ memujinya:
إنَّ لِكُلِّ نَبِيٍّ حَوَارِيَّ، وإنَّ حَوَارِيَّ الزُّبَيْرُ
“Sesungguhnya setiap nabi memiliki penolong setia, dan penolong setiaku adalah Zubair.”
Inilah seni melahirkan Rijal. Meski tanpa peran ayah, Shafiyyah menghadirkan ketegasan seorang ayah dalam dirinya, hingga lahirlah seorang pejuang. Dan begitulah seharusnya kita: tidak hanya membesarkan anak-anak kita, tetapi membentuk mereka menjadi Rijal, sosok yang akan menjaga agama, memimpin umat, dan menyalakan cahaya bagi generasi setelahnya.
Ditulis Oleh: Ustadz Harun Thoha, Lc.
Sumber rujukan:
- Al-Qur’an
- Ma’alim ar-Rajulah fi Al-Qur’an Al-Karim
- Shuwar Min Hayat as-Shahabiyat
