Dari Menggembala Kambing Menuju Memimpin Umat

Artikel Dosen    Siroh Nabawiyah    04 May 2026    7 menit baca
Dari Menggembala Kambing Menuju Memimpin Umat

As Suhaily rahimahullah berkata:

“Dan sesungguhnya Allah menjadikan hal ini (menggembala kambing) pada para Nabi sebagai pendahuluan bagi mereka, agar mereka menjadi para penggembala umat manusia, dan agar umat-umat mereka menjadi rakyat yang mereka gembalakan.”

- ar Raudh al Unuf (2/117) -

 

Tidak sedikit dari kaum muslimin hari ini yang menganggap menggembala kambing itu cuma urusan sederhana dan remeh. Namun siapa sangka di balik kesederhanaannya, ada pelajaran besar tentang kesabaran, tanggung jawab, dan kepemimpinan. Dan menariknya, Nabi ﷺ pernah bersabda:

«مَا مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا وَقَدْ رَعَى الْغَنَمَ»

 “Tidaklah ada seorang nabi pun melainkan pasti pernah menggembala kambing.”

Dan ketika beliau ditanya apakah beliau ﷺ juga pernah mengalaminya, beliau ﷺ menjawab: “Ya, aku pernah menggembala kambing dengan upah berupa beberapa qirath (uang receh zaman dulu) untuk orang-orang Mekkah.” 

(As Siyar wa al Maghazi = Sirah Ibnu Hisyam, karya Ibnu Hisyam, hlm.124)

Awal Mula Nabi ﷺ Menggembala Kambing

Setelah ditinggal wafat oleh ibunya, Aminah binti Wahb, pada usia 6 tahum dan juga kakeknya, Abdul Muththalib, ketika berusia 8 tahun, Nabi ﷺ pun diasuh oleh pamannya, Abu Thalib, sebagaimana wasiat kakek Nabi ﷺ.

Abu Thalib mengasuh Nabi ﷺ karena ia adalah saudara kandung ayah beliau, Abdullah. Sementara anak-anak Abdul Muththalib lainnya seperti Al-Harits atau Az-Zubair tidak mengasuh Nabi ﷺ, karena hanya Abu Thalib yang memiliki ibu yang sama dengan Abdullah.

Saat Nabi ﷺ berusia 12 tahun, Abu Thalib mengajak beliau berdagang ke Syam. Dan karena Abu Thalib hidup dalam keadaan miskin, Nabi ﷺ pun bekerja menggembala kambing untuk meringankan beban pamannya itu.

Di antara riwayat yang mengisahkan bahwa Nabi ﷺ pernah menggembala kambing -selain riwayat yang disampaikan di atas- adalah:

عَنْ جَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللهِ قَالَ: «كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللهِ بِمَرِّ الظَّهْرَانِ نَجْنِي الْكَبَاثَ، فَقَالَ: عَلَيْكُمْ بِالْأَسْوَدِ مِنْهُ فَإِنَّهُ أَيْطَبُ. فَقَالَ: أَكُنْتَ تَرْعَى الْغَنَمَ؟ قَالَ: نَعَمْ، وَهَلْ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا رَعَاهَا.

Artinya: Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah, ia berkata: “Kami pernah bersama Nabi ﷺ di Marr Zhahran dan kami memetik buah yang matang dari pohon arok maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Ambillah yang hitam.” Jabir bin Abdullah berkata: kami bertanya: “Wahai Rasulullah apakah anda pernah mengembala kambing?” beliau bersabda: “Ya, bukankah tidak ada seorang Nabi pun melainkan dia pernah mengembala kambing!”

(HR. Bukhari No. 5138)

Lantas, apakah hikmah pelajaran di balik Nabi ﷺ menggembala kambing yang menjadi jejak awal para nabi dalam perjalanan dakwah kenabian mereka? 

Ketika Gembala Kambing Dipilih Menjadi Pemimpin Umat 

Sebagian para Nabi ‘Alaihimus Salam pernah menggembala kambing. Bahkan tidak ada seorang pun dari mereka yang menggembala unta. Diantara mereka adalah Syu'aib, Dawud, Musa, dan Muhammad ‘Alaihimus Salam.

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿ وَمَا تِلْكَ بِيَمِيْنِكَ يٰمُوْسٰى * قَالَ هِيَ عَصَايَۚ اَتَوَكَّؤُا عَلَيْهَا وَاَهُشُّ بِهَا عَلٰى غَنَمِيْ وَلِيَ فِيْهَا مَاٰرِبُ اُخْرٰى ﴾ (سورة طٰهٰ: 17-18)

Artinya: “Apa yang ada di tangan kananmu itu, wahai Musa? (Musa) berkata, “Ia adalah tongkatku. Aku (dapat) bersandar padanya, merontokkan (daun-daun) dengannya untuk (makanan) kambingku, dan memiliki keperluan lain padanya.” (QS. Thaha: 17-18)

Hal ini tidak lain; karena menggembala kambing merupakan bentuk tadarruj (pembinaan secara bertahap) yang Allah Ta’ala berikan kepada para Nabi ‘Alaihimus Salam untuk memimpin umat. Sehingga mereka berpindah dari menggembala kambing ke memimpin umat. 

Ibnu Hajar dalam kitabnya, Fath al Bari Syarh Shahih al Bukhari (4/441) mengatakan:  

«قَالَ الْعُلَمَاءُ الْحِكْمَةُ فِي إِلْهَامِ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ رَعْيِ الْغَنَمِ قَبْلَ النُّبُوَّةِ أَنْ يَحْصُلَ لَهُمُ التَّمَرُّنُ بِرَعْيِهَا عَلَى مَا يُكَلَّفُونَهُ مِنَ الْقِيَامِ بِأَمْرِ أُمَّتِهِمْ»

“Para ulama berkata: ‘Hikmah dari para nabi menggembala kambing adalah agar mereka mampu bersabar dalam menggembala dan mengatur kambing-kambing, serta merasakan kesulitan dalam menggembala itu, sebelum mereka diutus kepada umat mereka’.”

Dan menariknya, para ulama juga telah menyampaikan beberapa karakter kepemimpinan yang dapat dipelajari dari pengalaman Nabi ﷺ dalam menggembala kambing. Aktivitas yang dianggap sederhana ini ternyata penuh akan hikmah dan pelajaran berharga. Diantaranya adalah:

  1. Keteladanan bagi Umat

Seorang pemimpin yang baik memiliki keteladanan yang membuat orang-orang mengikutinya tanpa paksaan. Sebagaimana kambing yang secara naluriah mengikuti gembalanya, rakyat pun akan menaruh kepercayaan dan mengikuti pemimpin yang menjadi contoh dalam ucapan, tindakan, dan sikapnya. 

Al Jahidz dalam kitabnya, Al Hayawan (5/269) menyatakan:

«وقالوا في الغنم: إذا أقبلت أقبلت، وإذا أدبرت أقبلت»

“Dan mereka mengatakan tentang kambing: Jika engkau datang (menghampiri), maka mereka akan datang. Dan jika engkau pergi, mereka juga akan tetap datang.” 

  1. Kesabaran dan Ketelatenan dalam Menghadapi Kondisi Umat

Menggembala kambing melatih kesabaran dalam menghadapi berbagai kondisi umat. Seorang gembala harus tahu cara membimbing yang lemah, mengendalikan yang sulit diatur, memilihkan padang rumput terbaik, menuntun ke sumber air, dan melindungi dari bahaya. Latihan ini menumbuhkan kesabaran, pemahaman terhadap karakter yang beragam, serta kepekaan terhadap berbagai masalah yang dihadapi. 

Dr. ‘Aidh al Qarny dalam kitabnya, Rawai’ as Sirah (35) menjelaskan:  

«فإن من رعى الغنم؛ اكتسب الخبرة والدرية فالضعيفة يقيمها، والجامحة يردها، ويختار لها المرعى الطيب ويوردها الماء ويحفظها ويحوطها من الذئاب، ويرتاد لها الممشى الحسن، وهذا هو الراعي الذي يرعى الرعية، والسائس الحكيم الذي يختار لها أحسن الاختيارات»

“Siapa yang menggembala kambing, ia akan memperoleh pengalaman dan keahlian. Ia akan menegakkan (membantu) yang lemah, menahan yang liar, memilihkan padang rumput terbaik, membawanya ke sumber air, serta melindunginya dari serigala. Itulah gambaran gembala (pemimpin) yang mengurus umatnya, seorang pemimpin bijak yang memilihkan pilihan-pilihan terbaik untuk mereka.”

  1. Hilm (Lemah-lembut) dan Ra’fah (Kasih Sayang) Terhadap Umat

Segerombolan kambing memiliki cara jalan yang berbeda-beda; ada yang lambat, ada yang cepat, dan ada yang santai. Seorang gembala harus menyatukan mereka dengan kelembutan dan ketenangan, bukan dengan suara yang menakuti atau membuat mereka lari. Ini adalah cerminan pemimpin yang mampu merangkul semua kalangan dengan lemah-lembut dan kasih sayang. 

Seperti yang dikatakan oleh Al-Jahiz dalam Al-Hayawan (5/269):

«ورعاء الغنم وأربابها أرقّ قلوبا، وأبعد من الفظاظة والغلظة»

“Dan para penggembala kambing dan pemiliknya umumnya memiliki hati yang lebih lembut dan lebih jauh dari sifat kasar dan keras.”

  1. Memiliki Perhatian Terhadap Kaum yang Lemah

Di dalam gerombolan kambing, pasti ada yang lemah, pincang, atau memiliki kemampuan berbeda. Penggembala tidak akan meninggalkan mereka, melainkan memberi perhatian khusus. Begitu pula seorang pemimpin, ia harus peka dan peduli terhadap kaum yang lemah dan memastikan tidak ada yang tertinggal dalam perjalanannya memimpin umat.

Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim az Zaid juga dalam kitabnya, Fiqh as Sirah (74-75) menyebutkan:

«فكان التدرج في ذلك برعيهم للأغنام التي هي مختلفة الطباع وفيها الضعيفة والعرجاء والتي ترغب تسلق الجبال ، وفيها التي لا تتمكن من تجاوز الأودية ، فيتعلم مع الأغنام تحقيق الرغبات المتفرقة ، تمهيداً وتدريجاً لمواجهة البشر في رغباتهم وقضاياهم المختلفة»

“Maka terdapat proses bertahap dalam hal ini melalui penggembalaan kambing, yang memiliki beragam tabiat, ada yang lemah, ada yang pincang, ada yang suka memanjat gunung, dan ada pula yang tak mampu menyeberangi lembah. Dari sini, seseorang belajar menghadapi keinginan yang beragam, sebagai persiapan dan latihan bertahap untuk menghadapi manusia dengan segala keinginan dan permasalahan mereka yang berbeda-beda.”

  1. Kedekatan dan Kebersamaan dengan Umat  

Pemimpin yang baik juga tidak menciptakan jarak dengan rakyatnya. Ia hidup bersama mereka, merasakan apa yang mereka rasakan, dan selalu hadir di tengah-tengah mereka. Menggembala mengajarkan untuk tidak menyendiri atau eksklusif.

Al-Jahiz dalam kitab Al-Hayawan (5/269) menulis:

« وراعي الغنم إنما يرعاها بقرب الناس، ولا يعزب، ولا يبدو ، ولا ينتجع»

“Seorang penggembala kambing biasanya menggembala di sekitar orang-orang, tidak mengasingkan diri, tidak tinggal di padang tandus, dan tidak berpindah-pindah jauh (nomaden).”

  1. Tawadhu’ (Rendah Hati)

Hal ini sebagaimana riwayat yang telah disebutkan di awal bahwa Nabi ﷺ secara jelas menyebutkan bahwa beliau pernah menggembala kambing, dan menyebutkan masa lalunya dengan jujur. Bahkan meskipun ada orang-orang yang mungkin merasa malu jika menyebut masa lalunya, namun Nabi ﷺ tetap bersyukur dan menyampaikannya tanpa ragu.

  1. Tafakkur

Menggembala kambing akan memberikan banyak waktu untuk menyendiri di alam terbuka. Hal ini menjadikan penggembala memiliki kesempatan yang besar untuk bertafakur kepada Allah ﷻ dan merenungi ciptaan-Nya di langit dan bumi. Dan sifat ini juga merupakan karakter pemimpin yang seharusnya dimiliki oleh seorang pemimpin yang membuatnya lebih rendah hati dan tidak mudah lalai oleh kekuasaan.

 

 Dr. Mahmud Muhammad ‘Imarah menyatakan dalam kitabnya, Khawathir wa Ta’ammulat fi as Sirah an Nabawiyah asy Syarifah (52):

«ثم إنها فرصة يتأمل فيها الراعي ملكوت الله تعالى في الليل اذا سجى والنهار اذا تجلى»

“Kemudian, itu adalah kesempatan bagi sang gembala untuk merenungi kerajaan (ciptaan) Allah Ta'ala, saat malam telah sunyi dan siang telah terang benderang.”

  1. Amanah dan Tanggung Jawab  

Saat Rasulullah ﷺ menggembala kambing milik penduduk Makkah dengan upah beberapa qirath (uang receh zaman dulu), beliau menjaganya dengan penuh tanggung jawab. Bahkan tidak ada riwayat yang menyebutkan bahwa ada ternak yang hilang atau tersesat, meskipun itu bukan miliknya pribadi. Ini adalah pelajaran penting tentang amanah, yaitu melaksanakan tugas sebaik-baiknya, sekecil apa pun itu.

  1. Kemandirian dan Integritas

Sejak usia muda, Nabi ﷺ sudah bekerja untuk menafkahi dirinya sendiri. Kemandirian ini membentuk integritas yang menjadikannya tidak akan bergantung pada orang lain, sehingga ia tidak mudah dipengaruhi oleh tekanan atau "utang budi" yang dapat melemahkan keadilan dan ketegasannya.

Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim az Zaid juga dalam kitabnya, Fiqh as Sirah (76) menyimpulkan:

«لأنه لو تعلق أو مالت نفسه إلى ما في يد غيره الجامله ، والدعوة لا مجاملة فيها ، والداعية يربأ بنفسه أن يعيش على صدقاتهم وأعطياتهم»

“Karena jika ia bergantung atau hatinya condong kepada apa yang ada di tangan orang lain, ia akan cenderung untuk menjilat dan memuji, padahal dakwah tidak mengenal basa-basi. Dan seorang pendakwah menjaga kehormatan dirinya untuk tidak hidup dari sedekah dan pemberian mereka.”

 

Dari sini, dapat disimpulkan bahwa pengalaman menggembala kambing bagi Nabi ﷺ bukanlah sekadar pekerjaan biasa, melainkan sebuah proses tadarruj (pembinaan secara bertahap) untuk membentuk karakter seorang pemimpin umat. Dengan demikian, menggembala adalah sebuah persiapan sempurna yang membekali Nabi ﷺ dengan karakter yang beragam yang beliau butuhkan untuk membawa risalah Allah Ta’ala.

 

Ditulis Oleh Ustadz Sholahuddin Al Ayyubi, Lc., M.Si.
Dosen Akademi Qur'an dan Akademi Siroh

lanjut baca