Kalian, terburu-buru! Pernah dengar kalimat ini?
Uniknya ini bukan kalimat saya, ini adalah kalimat Rasul ketika mengoreksi Khabbat ibnul Arats
Ada kisah mengapa kalimat berkah itu keluar, mari kita biarkan Khabbab ibnul Arat, ahli Quran, sang guru bagi adiknya Umar ibn Khatthab, Fathimah menuturkan :
عَنْ خَبَّابِ بْنِ الْأَرَتِّ قَالَ شَكَوْنَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَهُوَ مُتَوَسِّدٌ بُرْدَةً لَهُ فِي ظِلِّ الْكَعْبَةِ فَقُلْنَا أَلَا تَسْتَنْصِرُ لَنَا أَلَا تَدْعُو لَنَا؟ فَقَالَ
«قَدْ كَانَ مَنْ قَبْلَكُمْ يُؤْخَذُ الرَّجُلُ فَيُحْفَرُ لَهُ فِي الأَرْضِ، فَيُجْعَلُ فِيهَا، ثُمَّ يُجَاءُ بِالْمِنْشَارِ، فَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ، فَيُشَقُّ بِاثْنَيْنِ، وَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ، وَيُمَشَّطُ بِأَمْشَاطِ الْحَدِيدِ مَا دُونَ لَحْمِهِ مِنْ عَظْمٍ أَوْ عَصَبٍ، وَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ. وَاللَّهِ لَيُتِمَّنَّ هَذَا الأَمْرَ، حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ مِنْ صَنْعَاءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ لاَ يَخَافُ إِلاَّ اللَّهَ، أَوِ الذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ، وَلَكِنَّكُمْ تَسْتَعْجِلُونَ»
Artinya : Dari Khabbab bin al-Arat radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
"Kami pernah mengadu kepada Rasulullah ﷺ ketika beliau sedang berbaring beralaskan burdah (selimut) di bawah naungan Ka’bah. Kami berkata: ‘Wahai Rasulullah, tidakkah engkau memohon kemenangan bagi kami? Tidakkah engkau berdoa untuk kami?’
Maka beliau bersabda:
‘Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian ada yang ditangkap, lalu digalikan untuknya lubang di tanah, kemudian dimasukkan ke dalamnya. Lalu didatangkan gergaji, diletakkan di atas kepalanya, lalu dibelah menjadi dua. Ada pula yang disisir dengan sisir besi hingga memisahkan daging dari tulang dan sarafnya. Namun, semua itu tidak membuatnya berpaling dari agamanya. Demi Allah, agama ini pasti akan Allah sempurnakan, hingga seorang pengendara berjalan dari Shan‘a ke Hadramaut tanpa rasa takut kecuali kepada Allah, atau hanya takut serigala terhadap kambingnya. Akan tetapi, kalian terburu-buru.’” (HR. al-Bukhari)
Mendengar kabar duka demi duka pada negeri ini, apalagi di dunia pendidikan, tentu makin terbawa lisan ini untuk berucap :”Ya Allah, tidakkah kau akhiri kepahitan ini untuk kami?”. Mengingat tombak ujung peradaban manusia ada pada kualitas guru-gurunya, maka izinkan tulisan ini mewakili rasa itu, namun sejatinya untuk kita semua guru, murid, dan para pemangku kebijakan.
Tahun 2045 digadang-gadang menjadi sebuah titik balik Indonesia makin maju dan unggul dipercaturan dunia. Oleh sebabnya tak henti ikhtiar demi ikhtiar digulirkan. Mulai dari sektor ekonomi, pertanian, kesehatan, tak luput pendidikan. Bicara tentang duka dan harapan Indonesia kedepannya, maka model pendidikan apa yang ingin ditawarkan?.
Dunia kini mempunyai standar-standar yang walau sayangnya banyak kepentingan yang menunggangi standar ini. Diantara umum dipakai adalah standar PISA, IQ, dan sejenisnya. Maka lahirlah sekolah dengan bertujuan mengejar itu semua. Hanya satu tujuan mereka agar Indonesia unggul. Namun sepertimana Nabi bersabda : akan tetapi kalian terburu-buru. Dari beberapa sumber kita mendapat bahwa upaya numerasi, literasi dan pelatihan-pelatihan untuk guru diupayakan agar melahirkan insan yang utuh dan unggul. Namun bagaimana syariat ini mengoreksi kita, yang punya sifat وكان الإنْسانُ عجُولًا (manusia terburu-buru).
Pembaca yang budiman, akal sehat akan mengamini anda takkan mampu memberi apabila anda tak ada yang dimiliki. Maka, alih-alih anak murid kita push dengan sedemikian rupa, maka mengapa tidak kita buat program pendampingan untuk guru bukan hanya berorientasi membentuk, tapi menjadi. Menjadi guru yang mencintai membaca, menjadi guru yang punya semangat berbagi ilmu, menjadi guru yang punya semangat bangun malam, menjadi guru yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, menjadi guru yang sangat pandai meniru Rasul. Maka lihatlah bagaimana Allah menjadikan perbaikkan individu terlebih dahulu sebelum perbaikkan komunal. Tidakkah kita tahu bahwa butuh waktu 40 tahun bagi Nabi agung Muhammad menjadi seorang guru? Tidakkah 13 tahun yang terbentang pada periode Makkiyyah menjadi sebuah argument kuat tentang prioritas tauhid, akidah, akhlaq, adab, moral, etika, perenungan tentang alam dan isinya dalam menciptakan generasi unggul? Semua itu melahirkan Rasul yang baik secara individu dan siap menanggung beban komunal. Ya, meski perlu diakui data pada tahun 2019-2020 menunjukkan data positif yang signifikan pada kemampuan membaca, tapi apakah itu cukup? Kalau cukup harusnya banyak perbaikkan di negeri yang Allah berkahi ini. Dimana letak إقرأ dan واسجُد واقْتَربْ (baca dan sujud kepada Allah) apabila kualitas baca naik namun masjid makin sepi? Dimana letak إقرأْ باسمِ ربِّك (bacalah dengan menyebut nama Rabbmu) kalau ternyata membaca hanya melahirkan inovasi dalam kejahatan?
Ini tentang persiapan bahkan teknis, mana yang harus menjadi skala prioritas pada diri seorang mu’allim sebelum menuntut muta’allim berikut dengan rentan waktu lamanya menekuni sesatu yang ditawarkan syariat berupa akidah, akhlaq, dan perenungan terhadap ragam penciptaan-Nya. Sebuah lembaga akan terlalu terburu-buru apabila hanya berioentasi pada menjadikan murid dan melupakan menjadikan guru. Lembaga akan akan terlalu terburu-buru ketika menyibukkan guru dengan administrasi yang menumpuk. Lembaga akan terlalu terburu-buru ketika gagal membuat suasana kondusif, merawat, dan mendampingi guru dalam keimanannya sebelum menularkannya kepada murid. Jadilah kita para guru, atau murid kita terlalu terburu-buru dalam mengejar sesuatu yang akan segera lepas, dan melupakan apa itu prioritas!
Ya Allah, ampunkan dosa kami, dan berlebih-lebihannya kami dalam perkara kami. Dan kokohkanlah kami, dan tolonglah kami atas orang-orang kafir (Ali ‘Imran)
Ditulis Oleh : Muhammad Afif Rabbani, Alumni AGA 5
