Ibu Produktif?

Artikel Mahasiswa    Parenting Nabawiyah    10 Apr 2026    4 menit baca
Ibu Produktif?

Belakangan ini sudut pandang kita banyak tergeser dengan adanya media sosial yang menghadirkan POV (point of view) dari para ibu rumah tangga. Dengan suasana yang tampak realistis menjadikan kemudian hadir sikap ‘haus validasiyang berlebih. Berawal dari sekedar lintasan hati, kemudian berkembang menjadi aksi. Hingga perlahan mulai bergeserlah persepsi kaum wanita, yang awalnya semestinya bangga akan peran yang Allah anugerahkan padanya, perlahan mulai keluar dari fitrah hingga tak ada lagi rasa bangga dan bahkan meyakini peran kurang kebermanfaatannya.

 

Tak jarang ditemukan, para wanita yang menjawab “hanya ibu rumah tangga” ketika ditanya tentang kesehariannya. Sepintas sepele, namun fatal jika kata ‘hanya’ tersebut mewakili keyakinan dan persepsi akan peran mereka di keluarga. Terlebih jika persepsi inferior tersebut mewujud pada sikap dan cara mereka menunaikan amanah besarnya di rumah. Dengan rendahnya keyakinan akan keutamaan peran tersebut, boleh jadi aktivitas yang ‘hanya kerumahtanggaan’ itu akan dianggap kecil, tak bermakna dan kehilangan ruhnya. Hingga dengannya hati menjadi mudah lelah, kecewa dan uring-uringan yang tentu akan berdampak pada kenyamanan seluruh anggota keluarganya di rumah. Jika sudah begitu, siapa yang betah tinggal di rumah yang tak nyaman?

 

Dan entah sejak kapan para wanita mulai termakan tren ‘Ibu Produktif’, yang dengan bangga mereka sematkan sebagai identitasnya di profil media sosial dan tak segan mengajak para ibu lain untuk mengikutinya. 

 

Lantas, apa salah melabeli diri sebagai ibu produktif?

Tergantung.

 

Kembali pada parameter yang digunakan untuk merasa produktif. Jika produktif merujuk pada makna KBBI yang berarti menghasilkan, mendatangkan, atau memberikan manfaat (menguntungkan), tentu terlihatnya ‘keuntungan’ dalam mengurus keluarga di rumah yang sebenarnya besar nilainya jadi terasa kurang karena hasil yang tak seolah tak terlihat dalam ukuran-ukuran produktivitas materialistik.

 

Hingga banyak lontaran-lontaran yang menyayangkan ketika seorang wanita memutuskan untuk fokus pada keluarganya saja, seolah hal tersebut adalah hal yang menyedihkan, seakan aktivitas mereka di rumah itu remeh. Tidak penting. Padahal kalau saja diurai, sangat produktif sekali ibu-ibu di rumah dari terbukanya mata hingga terpejamnya. Bahkan sedang terpejam pun bisa tiba-tiba harus melek mengkondisikan rumah atau anak. Luar biasa sekali. Walaupun katakanlah sembari mengomel, hatinya sempit, tetap saja dilakukan. 

 

Andai saja mereka mengetahui, apa yang mereka sebut “hanya” Allah tempatkan pada keutamaan yang tinggi,  


وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ ۖ وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا


“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan (bertingkah laku) seperti orang-orang Jahiliah dahulu. Tegakkanlah salat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai Ahlul Bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”

(QS. Al-Ahzab: 33)

 

Allah hadirkan ‘rumah’ sebagai tempat utama bagi wanita, bukanlah simbol kekangan atau tahanan, sebab pada kalimat setelahnya Allah mengisyaratkan bolehnya keluar rumah, yakni dengan memperhatikan penampilan untuk tidak berperilaku sebagaimana wanita jahiliyyah. Prof. Dr. Adnan Baharits, salah seorang pakar pendidikan Islam di Universitas Ummul Qura Mekkah membahas khusus tentang bagaimana para wanita berkiprah di luar rumah sesuai dengan syari’at dalam buku beliau: Dhawabith Tasygil An-Nisa’ (243 halaman). Wanita tetap diberi keleluasaan beraktivitas bahkan di luar rumah, tetapi bukan dengan sudut pandang kesamaan gender yang disalahpahami zaman ini. 

 

Allah yang Maha Mengatur

Padahal jauh sebelum abad ini, sudah lebih dulu ada kisah seorang muhajirah pertama yang mempertanyakan hal tersebut kepada Rasulullah yaitu Ummu Salamah radhiallahu ‘anha.

 

Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, ia berkata, “Wahai Rasulullah, kami tidak berperang agar syahid dan kami juga tidak mendapatkan separuh harta warisan!”

 

Hebatnya, pernyataan yang dilontarkan Ummu Salamah ini ternyata mendapat respon langsung oleh Allah subhanahu wa ta’ala yang disampaikan melalui firman-Nya. 

 

وَلَا تَتَمَنَّوۡا مَا فَضَّلَ اللّٰهُ بِهٖ بَعۡضَكُمۡ عَلٰى بَعۡضٍ‌ؕ لِلرِّجَالِ نَصِيۡبٌ مِّمَّا اكۡتَسَبُوۡا‌ؕ وَلِلنِّسَآءِ نَصِيۡبٌ مِّمَّا اكۡتَسَبۡنَ‌ؕ وَاسۡـَٔلُوا اللّٰهَ مِنۡ فَضۡلِهٖ‌ؕ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُلِّ شَىۡءٍ عَلِيۡمًا

Dan janganlah kamu berangan-angan (iri hati) terhadap apa yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” 

(QS. An-Nisa: 32)

 

Ada poin hikmah dari tafsir Ibnu Katsir yang seharusnya menjadi teguran para ibu yang melabeli diri produktif ini, yaitu larangan Allah untuk merasa iri hati antara peran satu dan lainnya, antara kondisi keluarga satu dan lainnya. Jangan mudah terbawa arus. Kita harus paham landasan dari setiap aktivitas yang kita lakukan, baik itu menjadi IRT ataupun beraktivitas diluar rumah. Dengan tetap memperhatikan aturan yang sudah Allah berikan di Al-Qur’an, setiap wanita bisa memaksimalkan perannya agar tercapai sakinah dalam keluarganya. Sebagaimana sikap terbaik generasi sahabat, yang ketika turun kepada mereka satu ayat akan mereka upayakan untuk jalankan dengan sebaik-baiknya. 

 

Belajar dari Ibunda Khadijah

Kalau saja kita mau belajar dari wanita mulia yang sudah Allah jaminkan surga atas dirinya, pasti akan diikhtiarkan setiap jalan juangnya. Ikhtiar menikmati setiap terjalnya, yang tentu saja tidak mudah. Yang di balik setiap ketidakmudahan itu, Allah siapkan balasan terbaik atas ikhtiar yang dijalani.

 

Dari ibunda Khadijah kita belajar, bahwa produktivitas bagi wanita lebih besar dari sekedar meluasnya bisnis dan bertambahnya laba. Bagaimana tidak? Wanita bernasab tinggi dengan kekayaan yang meliputi dua pertiga kekayaan kota Mekkah saat memiliki kemampuan berbisnis yang istimewa, perniagaan level internasional—- tak segan meninggalkan kerajaan bisnisnya setelah menikah untuk fokus pada rumah tangganya. Ia memilih berkonsentrasi pada sebaik-baik ladangnya untuk berkarya, menjadi istri dan ibu bagi 6 anaknya di rumah. Pilihan yang berbuah manis tentu saja, sebab pilihan tersebut Allah bangunkan untuknya sebuah istana mutiara di surga.


Ditulis Oleh: Indriani
Mahasiswa AKU Angkatan 14

 

Sumber:

 

  1.  Al-Quran 

  2. Tafsir Ibnu Katsir

  3. Buku Sentuhan Parenting (Ustadz Budi Ashari)

  4. Parenting Nabawiyah (Ustadz Budi Ashari)

  5. Buku Catatan Hati Ibu (Ustadzah Poppy Yuditya)

lanjut baca