Al-Mutrafuun (Lambang Kemewahan yang Menggerogoti Sebuah Peradaban)

Artikel Dosen    Al-Qur'an    18 May 2026    3 menit baca
Al-Mutrafuun (Lambang Kemewahan yang Menggerogoti Sebuah Peradaban)

Sejarah adalah cermin yang tak pernah berdusta. Ia merekam setiap jejak peradaban, dari fajar yang menawan hingga senja yang kelam. Seperti yang disampaikan oleh Imam Ibnu Khaldun, setiap peradaban memiliki garis hidupnya sendiri: kelahiran, masa jaya, dan akhirnya keruntuhan. Senja peradaban mulai memudar dan hilang ketika kemewahan berlebihan dan moral yang terkikis menjadi lukisan yang dominan. Ketika para pengatur nasib, para penentu arah peradaban, terlalu asyik dalam parade kemewahan mereka, tak sadar mereka sedang menabur benih kehancuran yang kelak akan menimpa seluruh entitas.

Hukum besi peradaban ini tidak mengenal pandang bulu. Ia berlaku universal, baik bagi peradaban yang berlandaskan wahyu samawi maupun yang sepenuhnya bertumpu pada nalar manusia. Ketika pondasi spiritual luntur, dan para pemimpinnya yang Al-Quran menyebutnya sebagai al-Mutrafun atau orang-orang yang hidup bermewah-mewah menolak seruan kebenaran, maka kehancuran pun akan datang. Allah SWT berfirman,

وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya”. (Al-Isra’: 16)

Ayat ini mengingatkan kita, bahwa saat sebuah negeri hendak binasa, para pemimpinnya yang angkuh dan zalim justru semakin merajalela, hingga tiba saatnya azab ditimpakan.

Para mutrafun ini memperagakan kemewahan mereka tanpa segan, bahkan dengan bangga. Mereka membangun rumah mewah nan megah, mengoleksi kendaraan mewah, dan memamerkan barang-barang branded yang nilainya tak terhingga. Ironisnya, semua ini dipamerkan di tengah jerit penderitaan rakyat yang berjuang hanya untuk sekadar bertahan hidup. Kesenjangan ini menciptakan jurang yang dalam: di satu sisi, ada pameran kemewahan yang vulgar; di sisi lain, ada rasa dendam dan kekecewaan yang tumbuh subur di hati mereka yang tak berdaya. Sikap ini menunjukkan kebutaan hati para mutrafun terhadap realitas, seolah penderitaan orang lain hanyalah ilusi yang tak perlu dihiraukan.

Bahkan ada yang memamerkan hartanya dari hasil korupsi, uang rakyat yang dikumpulkan dari tetesan keringat untuk ibadah, mereka gunakan untuk memuaskan hawa nafsu. Sungguh tindakan yang tiada ampun, hingga di akhirat pun kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Kelak, jika saat yang diancamkan oleh Allah itu telah tiba, orang-orang mutraf Itu pasti akan berteriak meminta tolong. Orang-orang yang paling memperturutkan hawa nafsu, adalah orang-orang yang paling pantang terhadap kesulitan dan perjuangan hidup, segala kepayahan mereka tebus dengan harta kekayaan yang dimiliki, otot-otot mereka tak terbiasa bekerja keras, perut mereka tak terbiasa menahan lapar, syaraf mereka tidak terbiasa berada dalam tekanan. Karena itu ketika mereka dihadapkan pada kondisi yang memayahkan, rasa lapar menyerang dan harus mereka tahan, syaraf mereka tertekan menghadapi rasa takut tanpa ada kepastian kapan berakhimya, mereka menjadi orang yang paling menderita dan didera rasa putus asa. Mereka memasang stiker di pintu-pintu rumahnya ‘Tidak menerima permintaan sumbangan dalam bentuk apa pun, kecuali seizin ketua RT', menempelkan gambar kepala anjing di gerbang pekarangan yang selalu tertutup. Karenanya Allah SWT berfirman, 

حَتّٰٓى اِذَآ اَخَذْنَا مُتْرَفِيْهِمْ بِالْعَذَابِ اِذَا هُمْ يَجْـَٔرُوْنَۗ* لَا تَجْـَٔرُوا الْيَوْمَۖ اِنَّكُمْ مِّنَّا لَا تُنْصَرُوْنَ* قَدْ كَانَتْ اٰيٰتِيْ تُتْلٰى عَلَيْكُمْ فَكُنْتُمْ عَلٰٓى اَعْقَابِكُمْ تَنْكِصُوْنَۙ* مُسْتَكْبِرِيْنَۙ بِهٖ سٰمِرًا تَهْجُرُوْنَ

“Hingga apabila Kami timpakan adzab, kepada orang-orang yang hidup mewah di antara mereka, serta-merta mereka memekik meminta tolong. Janganlah kalian memekik meminta tolong pada hari ini. Sesungguhnya kamu tidak akan mendapatkan pertolongan dari Kami. Sesungguhnya ayat-ayat-Ku (Al-Qur'an) selalu dibacakan kepada kamu sekalian, maka kamu selalu berpaling ke belakang, dengan menyombongkan diri kepada Al-Qur'an itu dan mengucapkan perkataan-perkataan keji terhadapnya di waktu kamu bercakap-cakap di malam hari”.  (QS. AI-Mu'minun: 64-67)

 

Maka, sudah menjadi kewajiban bagi para ahli ilmu untuk terus menyuarakan kebenaran. Menegakkan hujjah, mengingatkan para mutrafun akan akibat kesombongan mereka, sekaligus mencegah umat dari bujuk rayu kemewahan dunia yang menipu, yang bisa menjerumuskan mereka ke dalam kesengsaraan akhirat. Seperti Qarun yang diperingatkan Allah dalam surah al-Qashash ayat 76, bahwa kebanggaan takkan abadi dan Allah tak menyukai mereka yang angkuh. Dan ketika Qarun memamerkan kekayaannya, tetap ada orang-orang berilmu yang tak silau dan mengingatkan bahwa pahala di sisi Allah lebih baik bagi orang-orang yang sabar dan beriman (Al-Qashash: 80).

Pada akhirnya, kisah para mutrafun adalah pengingat bahwa kemewahan bukanlah jaminan kebahagiaan atau keabadian. Ia adalah fatamorgana yang membawa pada kehancuran, baik bagi individu maupun peradaban itu sendiri. Kekuatan sejati terletak pada keadilan, moralitas, dan kesadaran akan hakikat kehidupan yang fana

 

Oleh Ustadz Matahari Satria, Lc.

Dosen Akademi Al-Qur'an

lanjut baca