ADA APA DENGAN PAUS?
Pernah dengar tentang whale fall?
Whale fall adalah satu fenomena siklus kejadian atau proses panjang ekologi. Terhitung sejak kematian seekor paus hingga bangkainya mencapai dasar laut. Setelah kematiannya, seekor paus mampu menjadi sumber kehidupan bagi kehidupan dasar laut, dan bahkan mampu membangun sebuah ekosistem baru.
Bagaimana tidak, menurut Guiness Book of Records seekor Paus Biru yang dicatatkan sebagai paus terberat itu beratnya mencapai 190 ton atau 190.000 kg. Ini setara dengan berat sekitar 40 ekor gajah dewasa. Sementara paus terpanjang tercatat memiliki panjang hingga 33.57 meter atau setara tinggi gedung 10 lantai.
Bayangkan, dengan daging sebesar itu berapa triliun makhluk laut yang dapat mengambil manfaat dari bangkainya. Yang menjadi perhatian lebih adalah karena sebagian besar berat paus itu ada pada lapisan lemak yang dimilikinya. Lemak itu menjadi makanan yang sangat diinginkan oleh hewan pemakan bangkai. Lemak itu juga tersimpan di tulang-tulang yang dapat mengeluarkan minyak yang juga sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Di abad 19 sempat digunakan untuk pengobatan, skincare, bahkan untuk perindustrian, juga bahan peledak di perang dunia pertama dan kedua.
Yang menarik minyak itu bahkan masih menetes ketika daging-daging sudah dibersihkan dan tersisa tulang yang ingin dijadikan fosil untuk kebutuhan ilmu pengetahuan setelah 26 tahun tulangnya dibersihkan dari sisa dagingnya. Luar biasa bukan? Masya Allah.
Untuk menjadi catatan, paus-paus yang dimanfaatkan manusia ini diklaim merupakan paus-paus yang mati karena kecelakaan atau terdampar di laut. Bukan secara membabi buta dibunuh untuk dikomersialkan. Alhamdulillah, manusia masih belum serakus itu (pen: satir).
Menurut Thompson Earth Systems Institute, seekor paus yang merupakan salah satu makhluk terbesar di planet bumi ini, bisa mendekomposisi dirinya setelah kematian dalam jangka waktu yang hampir sama periodenya dengan periode hidupnya, bahkan lebih lama lagi.
Sebagai informasi, para peneliti (www.biologyinsights.com) meyakini, paus yang memiliki siklus hidup terlama adalah bowhead whale (paus kepala busur) dengan nama latin: Balaena mysticetus, diperkirakan berusia kurang lebih 280 tahun.
Kalau kita sepakat dengan pernyataan Thompson Earth Systems Institute, maka Paus yang berusia 280 tahun ini dapat masih bermanfaat hingga 280 tahun setelah kematiannya, bahkan lebih. Masya Allah.
Itu kalau kita bicara tentang manfaat setelah kematiannya. Bagaimana manfaat paus ketika masih hidup? Tidak kalah fenomenalnya. Paus menyediakan setengah dari oksigen yang manusia hidup, memerangi perubahan iklim dan mempertahankan stok ikan dengan memberikan nutrisi pada fitoplankton. Paus menempati predator puncak dalam rantai makanan ekosistem laut. Keberadaan paus menjadi signifikan untuk keseimbangan ekosistem laut.
Tugas penting paus dalam kehidupan manusia lainnya adalah penyerap karbondioksida 1.9 juta ton pertahun, setara dengan menghilangkan polusi 410.000 mobil di jalan raya tiap tahunnya.
Last but not least,
Masih ingat kisah Nabiyullah Yunus yang sejak kecil sudah sering kita dengar?
Bagaimana Nabi Yunus alaihissalam dengan izin Allah dapat bertahan di dalam perut ikan yang sangat besar. Berikut ayatnya:
فَالْتَقَمَهُ الْحُوْتُ وَهُوَ مُلِيْمٌ ١٤٢
Artinya: Dia kemudian ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela (QS Ash-Shaffat: 142)
Ulama berbeda pendapat, ikan besar apakah yang menelan Nabi Yunus Alaihissalam.
Ibnu Katsir, dalam salah satu tafsir Quran-nya menjelaskan bahwa Al Hut yang menelan nabi Yunus adalah ikan paus yang sangat besar.
Ibnu Jarir meriwayatkan dalam kitab tafsirnya, bahwa Abu Hurairah berkata: “Rasulullah menuturkan, “Kala Allah berkehendak untuk menahan Yunus dalam perut ikan besar, Allah mengilhamkan kepada ikan itu, “Telanlah dia, jangan kau lukai dagingnya, dan jangan kau patahkan tulangnya, karena dia bukan rezekimu.”
Bila kita mengambil pendapat bahwa ikan besar yang disebut dalam Al Quran itu adalah ikan paus, maka semakin lengkaplah sudah kebermanfaatan luar biasa dari paus. Tunduk patuh pada perintah Rabb-nya, menyelamatkan dan menjadi tempat bertaubat, bertasbihnya seorang Nabiyullah Yunus alaihissalam.
Pertanyaannya kemudian adalah,
Sebagai manusia yang dimuliakan dalam penciptaannya, dilebihkan diantara banyak makhluk dengan kesempurnaan penciptaan, bahkan diamanahi tugas sebagai Khalifah di muka bumi, pernahkah kita berpikir lebih jauh tentang manfaat kita kemarin, hari ini, esok bahkan jauh setelah kematian kita? Apakah anak keturunan kita dapat merasakan manfaat dari ilmu dan amal yang selama hidup kita lakukan?
Kalau paus bisa hidup dengan manfaatnya lebih dari 280 tahun, dan setelah kematiannya manfaatnya masih sangat signifikan bagi kehidupan laut sekitar 280 tahun kemudian bahkan lebih, apa kabar dengan kita?
Sudahkah kita menyiapkan legacy peninggalan bermanfaat yang tidak hanya dapat terasa ketika kita hidup, tetapi jauh setelah kematian kita pun masih dapat bermanfaat bagi kehidupan manusia lain. Bukan hanya membusuk sia-sia dalam kubur kelak!
Ditulis oleh: Poppy Yuditya
Dosen Akademi Keluarga
