BEGINI KHAWATIRNYA PARA SAHABAT

Artikel Dosen    12 Feb 2024    3 menit baca
BEGINI KHAWATIRNYA PARA SAHABAT

Ditulis oleh Ustadz Hamam Zaky, Lc.

 

Tatkala Nabi shallallahu alaihi wa sallam memulai tinggal dan hidup bersama kaum muslimin di Madinah, para sahabat dari kalangan Muhajirin datang kepada beliau seraya mengadukan kegelisahan mereka.

Wahai Rasulullah, kami tidak pernah melihat sebuah kaum yang lebih banyak memberi ketika hartanya melimpah dan tidak pula paling baik dalam membantu meski memiliki sedikit harta, daripada kaum dimana kami tinggal bersamanya saat ini…”.

Mereka mencukupi perbekalan kami... mereka menyertakan kami di setiap kegembiraan dan kesenangan mereka, hingga kami khawatir kalau-kalau mereka memborong seluruh pahala...”.

Bisa dibayangkan bagaimana sulitnya keadaan mereka di awal-awal kedatangan. Kampung halaman, sanak saudara, keluarga bahkan harta benda mereka dengan ikhlas mereka tinggalkan. Hidup di tempat yang baru, bersama saudara-saudara baru, dengan perbekalan seadanya.

Meski demikian, hal yang menjadi kekhawatiran dan kegundahan utama mereka bukanlah perkara tempat tinggal. Bukan pekerjaan. Bukan pula makanan. Apa yang menjadikan mereka bersedih adalah kelemahan dan ketidakmampuan mereka untuk memperoleh pahala dan balasan dari Allah sebagaimana yang dilakukan oleh saudara-saudara mereka dari kalangan Anshar.

Kala sahabat Muhajirin melaksanakan ibadah, sahabat Anshar pun bisa melakukannya. Kala sahabat Anshar bisa bersedekah dengan harta benda yang mereka punya; termasuk uang, perkebunan, bahkan wanitanya, maka sahabat Muhajirin hanya bisa menerima kebaikan dari saudaranya Anshar. Hal inilah yang kemudian menjadikan mereka khawatir tidak mendapatkan jatah kebaikan, sehingga tertinggal jauh dibelakang saudaranya, sehingga mereka pun mengadukan hal ini kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Subhanallah… Indah sekali sifat terpuji yang dimiliki kedua golongan ini.

Sahabat Anshar yang dengan tulus dan ikhlas berkorban menolong saudaranya Muhajirin. Dan sahabat Muhajirin yang tidak memanfaatkan kebaikan saudaranya kecuali sekedar untuk menutupi kebutuhan mereka, bahkan merasa bahwa pemberian saudara mereka membuat mereka tidak bisa bersaing dengan saudaranya. Mereka adalah orang-orang yang lapar akan kebaikan dan haus akan balasan dari Allah. Fokus utama mereka adalah akhirat.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kemudian menenangkan mereka dengan jawaban.

لا، مَا دَعَوْتُمُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ وَأَثْنَيْتُمْ بالأَجْرِ علَيهِم

Tidak, selama kalian berdoa kepada Allah untuk mereka dan kalian sanjung mereka”. (H.R. Tirmidzi)

Artinya selama doa dan rasa syukur mengalir dari lisan kalian maka kalian juga akan menerima ganjaran yang serupa. 

Senada dengan kisah di atas, dalam riwayat imam Muslim dari sahabat Abu Dzar al-Ghifari radhiyallahu anhu disebutkan bahwa sekelompok orang pernah mendatangi Rasulullah untuk mengadukan keadaan mereka.

Wahai Rasulullah, orang-orang kaya lebih banyak mendapatkan pahala. Mereka mengerjakan shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, dan mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka”.

Lagi-lagi yang menjadi kekhawatiran dan kegundahan para sahabat adalah ketidakmampuan mereka dalam bersedekah. 

Hal ini maklum adanya, karena jika melihat besarnya pahala yang dijanjikan Allah Azza wa Jalla perihal keutamaan bersedekah, tentu pasti membuat siapa pun yang haus pahala akan merasa iri dengan orang-orang yang bisa menyedekahkan hartanya.

Misalnya dalam surat al-Baqarah ayat ke-261, Allah melipatgandakan pahala sedekah sebanyak tujuh ratus.

Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti (orang-orang yang menabur) sebutir biji (benih) yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui. (Al-Baqarah/2:261)

Begitu pula dalam riwayat imam Muslim melalui sahabat Abu Hurairah radiyallahu anhu, tatkala para sahabat mengadu kembali kepada Nabi akan amalan yang pahalanya setara dengan sedekah, yang ternyata juga dilakukan orang-orang kaya,  Nabi shallallahu alaihi wa sallam pun menjawab.

ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ

Itu adalah karunia Allah yang Dia berikan kepada orang yang Dia kehendaki”. (H.R. Muslim)

Artinya kelebihan seseorang dalam hal harta adalah ketentuan dari Allah Ta’ala. Manusia hanya bisa berdoa dan berusaha.

Bagi para pemburu pahala, harta adalah karunia besar yang bisa dijadikan pemberat amalnya. Adapun bagi para penghamba dunia, harta adalah fitnah besar yang bisa memberatkan timbangan keburukannya. Layaknya sebuah pisau, bagi yang memahami dan bisa menggunakan fungsi semestinya sebuah pisau, maka akan banyak manfaat dan kebaikan yang bisa diperoleh darinya. Sebaliknya bagi yang tidak memahaminya dan tidak bisa menggunakannya dengan semestinya, maka diri sendiri bahkan orang lain akan dengan mudah celaka dan terluka olehnya.

Dalam Al-Quran harta juga digambarkan sebagai Qiyam atau Qiwam yang bermakna penopang atau penegak. Artinya dengan harta, kehidupan dan kebaikan agama seseorang akan senantiasa dapat ditegakkan secara kuat dan kokoh.

Begitulah para sahabat radiyallahu anhum memahami fungsi utama harta. Sesuatu yang dianggap kebanyakan orang sebagai perkara dunia, di mata mereka adalah merupakan pendukung kuat untuk menaikkan derajat mereka di akhirat. Maka hal yang sangat maklum jikalau mereka merasa khawatir karena tidak memilikinya.

Bagaimana dengan kita?

.

Wallahu Ta’ala A’lam.

lanjut baca