AL-QURAN PENYEMBUH LUKA HATI DAN JIWAKU

Artikel Dosen    31 Oct 2024    4 menit baca
AL-QURAN PENYEMBUH LUKA HATI DAN JIWAKU

Coba periksa setiap inci permukaan kulit di tubuhmu. Adakah yang tak pernah tergores luka? Semua orang pasti pernah terluka, baik itu akibat sayatan benda tajam, tusukan duri, atau hantaman benda tumpul. Bahkan, tak jarang, luka tersebut masih meninggalkan bekas di tubuh kita.

Itu tentang tubuhmu, lalu bagaimana dengan hatimu? Semua orang juga pasti pernah merasakan luka di hati, sakit jiwa, serta lelah pikiran akibat berbagai macam kondisi yang dihadapinya sehari-hari. Terdapat lisan tajam yang mampu menyayat dan menggoreskan luka di hati, kejadian tak terduga yang menusuk serta meninggalkan lubang yang menganga dalam jiwa, dan musibah yang menimpa kita, yang sangat membebani pikiran.

Dalam hidup ini, sangat mustahil bagi kita untuk tidak terluka, baik jiwa maupun raga. Oleh karena itu, fokus kita bukanlah untuk menjauhi luka, melainkan untuk memahami bagaimana cara menghadapi serta mengobati luka-luka tersebut.

Belakangan ini, luka di hati dan sakit di jiwa sering dikaitkan dengan depresi, yang merupakan salah satu masalah kesehatan mental yang semakin umum.

 

Lalu, apa itu depresi?

Depresi adalah masalah kesehatan mental yang sering dialami oleh masyarakat saat ini. Kondisi ini ditandai dengan perasaan sangat sedih, kehilangan minat terhadap kegiatan sehari-hari, serta menarik diri dari lingkungan sosial. Selain itu, ada juga gejala fisik, seperti kesulitan tidur dan berkurangnya nafsu makan. Dampak dari depresi ini sangat luas; tidak hanya mempengaruhi orang yang mengalaminya, tetapi juga keluarga dan masyarakat di sekitarnya.[1]

Perlu dipahami bahwa depresi bukan berarti seseorang lemah dalam iman. Banyak Nabi dan Sahabat juga merasakan kesedihan dan emosi yang mirip dengan gejala depresi saat ini. Contohnya adalah Nabi Ya'qub ‘Alaihis Salam, yang mengalami kesedihan yang sangat mendalam setelah kehilangan putranya, sehingga kondisi tersebut mempengaruhi penglihatannya.[2]

Di samping itu, kesedihan mendalam, suasana hati yang buruk, serta rasa bersalah merupakan gejala dan tanda depresi juga pernah dialami oleh baginda Nabi Muhammad . Ingatlah kisah tatkala wahyu sempat berhenti, pertanyaan tak kunjung mendapat jawaban, masyarakat mencemooh dan mendustakan, lalu istri dan paman tercinta diwafatkan. Apakah semua itu tidak menyedihkan serta memberikan tekanan?

Para nabi mengalami luka, kita pun demikian. Namun, yang membedakan adalah, mereka mampu bertahan dan mengobati lukanya. Sedangkan banyak di antara kita sangat mudah mengeluh, rapuh, serta tidak mampu keluar dari keterpurukan. Bahkan, luka-luka itu tak jarang mengantarkan pada kebinasaan.

 

Kenapa kita mengalami luka?

Hidup ini adalah perjalanan, dan luka adalah bagian dari cerita kita. Selama seseorang masih menyimpan nafas kehidupan, pastilah ia akan mengalami ujian yang mampu melukai jiwa dan raganya. Allah berfirman:

أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? [Al 'Ankabut:2]

وَلَقَدۡ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۖ فَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱلۡكَٰذِبِينَ

Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. [Al 'Ankabut:3]

Orang yang tak pernah mengecap rasa pahit, ia tak akan mampu memahami apa itu manis; orang yang tak pernah merasakan duka, ia tak akan mampu memahami apa itu bahagia; dan ia yang tak pernah merasakan luka, ia tak akan mampu memahami apa itu sehat dan sejahtera.

Luka demi luka yang kita alami, jika mampu dihadapi dengan baik, maka luka-luka itu akan memberikan kekuatan, mendorong kita untuk terus tumbuh dan berkembang. Allah berfirman:

وَعَسَىٰٓ أَن تَكۡرَهُواْ شَيْئًا وَهُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّواْ شَيْئًا وَهُوَ شَرّٞ لَّكُمۡۚ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. [Al Baqarah:216]

 

Obat hati dan jiwa

Dunia psikologi akhir-akhir ini mulai melirik sisi spiritual dalam penanganan masalah depresi dan masalah kejiwaan lainnya. Bożek, Nowak, & Blukacz (2020) menyatakan adanya hubungan positif antara spiritualitas dan perilaku terkait kesehatan dengan kesejahteraan psikologis. Spiritualitas tidak hanya berhubungan langsung dengan kesejahteraan psikologis, tetapi juga mempengaruhi perilaku kesehatan yang pada gilirannya berdampak pada kesejahteraan psikologis.[3]

Namun, bagi umat Islam, Al-Quran menawarkan solusi spiritual yang dapat memberikan ketenangan dan harapan bagi mereka yang tengah berjuang melawan depresi. Allah berfirman:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

Dan kami menurunkan dari Al-Quran sesuatu (sebagai) obat dan rahmat bagi orang-orang beriman (QS. Al-Isra’: 82)

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ قَدۡ جَآءَتۡكُم مَّوۡعِظَةٞ مِّن رَّبِّكُمۡ وَشِفَآءٞ لِّمَا فِي ٱلصُّدُورِ وَهُدٗى وَرَحۡمَةٞ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. [Yunus:57]

Betapa berat ujian yang dihadapi Rasulullah , betapa perih luka yang dihadapinya. Namun, beliau mampu bertahan; lukanya terobati; lalu bangkit menjadi individu yang jauh lebih kuat dan kokoh. Al-Quran memberikan nasihat yang memotivasi; Al-Quran memberikan kisah-kisah yang menghibur; dan Al-Quran memberikan janji-janji yang menumbuhkan harapan.

Bagaimana Al-Quran mengobati luka? In syaa Allah akan kita bahas lebih spesifik dalam tulisan-tulisan berikutnya.

 

M Abduh Al Baihaqi, Lc



[1] Onyemaechi, C. (2024, April). What Is Depression?. Diakses dari https://www.psychiatry.org/patients-families/depression/what-is-depression

[2] Kahn, M. (2021, May 18). 5 Verses about Depression in the Quran. Diakses dari https://www.getquranic.com/5-verses-about-depression-in-the-quran/?_gl=1*7xlj8i*_ga*MTc3MTE5NDMyNS4xNzE4Njc3MDYw*_ga_WL1GTGHFNG*MTcxODY3NzA2MC4xLjAuMTcxODY3NzA2MC4wLjAuMA..*_gcl_au*MTY4Mzg5MzUwMi4xNzE4Njc3MDYw*_ga_ZD4C35KNQH*MTcxODY3NzA2MC4xLjAuMTcxODY3NzA2MC42MC4wLjA

[3] Bożek, A., Nowak, P. F., & Blukacz, M. (2020). The relationship between spirituality, health-related behavior, and psychological well-being. Frontiers in Psychology, 11, Article 1997. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2020.01997

lanjut baca